
Inilah salah satu pemandangan yang sering kita jumpai dalam komplek perumahan Taman Melati Sawangan. Pada awalnya ojek disini masih sedikit, mungkin hanya satu dua orang, dan mudah dikenal. Warga mungkin mengenal baik ojek ditempat ini. Namun beberapa bulan terakhir ini terjadi kenaikan jumlah ojek di kawasan ini. Kesemrawutan dalam pengaturan ojek di kawasan ini tentunya merugikan warga, karena pernah menyalahgunakan area bermain anak2 serta keluarga . Penggunaan sementara area bermain anak dan keluarga untuk pangkalan ojek ini telah di nodai dengan Judi yang dilakukan beberapa bulan lalu. Selain judi ada permasalahan lain yang timbul dari keberadaan ojek di taman ini, seringnya nongkrong, iseng sehingga mengganggu pengguna jalan, motor dan pejalan kaki yang lewat. Selain itu keberadaan ojek dengan tingkah laku yang kurang baik diatas tentu sangat berpengaruh buruk terhadap anak-anak disekitarnya. Karena anak belajar dari lingkungannya yang dia lihat, dengar dan rasakan.
Selain keanehan2 diatas tentunya masih banyak lagi yang perlu diperhatikan bersama, mengenai indikasi adanya rasa seakan menguasai area ojek. Karena beberapa warga pernah melihat sendiri ketika ada jasa pengantar anak dari luar entah itu saudara atau Ojek luar namun begitu ketahuan mengantar anak warga malah seolah harus ijin ke mereka dan memamncing konflik. Tentunya dari sini warga harus sadar bahwa telah terjadi gejala premanisme baru di tengah warga. Keluhan warga lagi adalah seringnya membut gaduh, suasana tidak nyaman disaat warga berangkat kerja, yang tentunya membuat tidak nyaman keluarga yang ada di rumah.
Ini semua tentunya mengganggu kenyamanan, ketenangan, rasa aman dari warga sekitar, namun demikian warga juga punya kewajiban bersama, karena tidak semua harus diserahkan ke aparat, security, atau pengembang. Kita sebagai warga juga berkewajikan memelihara lingkungan dari tindakan maksiat, tindakan kurang layak yang terjadi di sekitar kita.
ARENA BERMAIN ANAK ANAK

*) anak anak ingin bermain dengn nyaman di Taman Bermain ini.
Foto:
*) Ojek kamtibmas ??
Siapa yang Mengkoordinir? Bertanggung Jawab?
Coba tanyakan pada Security , atau ke Ojek nya !! siapa sih yang bikin Ojek makin banyak dari 2-4 orang menjadi 23 – 25 Ojek? Ojek ditengah tengah warga, namun tidak jelas siapa yang bertanggung jawab ?
Gejala Premanisme mulai Tumbuh.
Ya.. gejala premanisme sudah mulai tumbuh di tengah2 pemukiman. Sangat disayangkan hal ini dibiarkan begitu saja. Security 3 lapis kayaknya belum bekerja maksimal dalam mengamankan dan membuat rasa aman warga. Gejala ini timbul karena tidak ada bimbingan, monitor, arahan dari pihak security. Sehingga seringnya ojek ngebut di jalan dalam komplek. Merasa menguasai ojek, sehingga jika ada warga yang menggunakan jasa orang lain / saudara untuk mengantar anaknya harus ijin dengan komunitas ojek ini. Disatu sisi kita juga simpati dan kasihan terhadap ojek, karena itu mata pencaharian mereka. Wargapun juga pasti masih ada yang membutuhkan. Namun demikian, jangan karena kebutuhan ojek kita biarkan dengan keanehan-2 nya dan tidak menertibkan. Kita juga berkewajiban membimbing, menegur, meluruskan jika ada yang salah dari kawan2 ojek. Berbagai kasus diatas sebaiknya menjadi pelajaran bersama dan untuk segera menertibkan ojek.
From Melati peduli
Dear All
Sepertinya perlu kita musyawarain bersama warga,.mungkin perlu ada pertemuan untuk mencari solusinya. Bisa berangkat dari RT or RW. Kita perlu jg mengajak Developer jg untuk mencari solusinya. Semakin cepat semakin aik.
Thanks
Bagus pak ..idenya… perlu saling krjasama lah.. saling mensinergikan kelebihan dan kekurangn masing2..
Saya sependapat dengan Pak Wachid. Perlu diberikan solusi yang “bijak” mengingat banyak warga yg memerlukan layanan ojek tetapi di sisi lain tempat bermain anak-anak, keindahan dan keamanan lingkungan juga harus dipikirkan.
Saya setuju jika ojek “direlokasi” ke dekat portal depan.
Saya melihat pangkalan ojek di Taman Melati dalam kerangka supply demand. Jadi satu cara untuk dapat merelokasi ojek ke portal depan adalah dengan mengubah pola demand. Kita harus meng-edukasi warga agar tidak naik ojek dari tempat mangkal yang saat ini.
@henry: ada ide gmna kira2 solusi yg baik? urusan isi perut orang lumayan sensi lho…
Idenya Pak Dodi, Top .. perlu segera direalisasikan..
Padahal dl ada angkutan taman melati yang lebih nyaman, karena bentuknya angkot jadi bisa bawa lebih dari 2 penumpang bersamaan, tapi dikalahkan oleh Ojek. Saya setuju prinsip demand-supply. Tampaknya memang yang paling efektif ya boikot Ojek yang mangkal di area dalam TM, namun harus ada alternatif angkutan pengganti sebelum hal tsb dilaksanakan. Harus ada ojek yang mau ditempatkan di portal depan, dan semua warga tahu dan mau pakai jasa ojek yang mangkal di tempat seharusnya.
Menurut saya diajak musyawarah bersama dulu, kalau mereka niatnya baik seharusnya solusi yang hanya memindahkan pool mangkal itu nggak banyak merugikan pengojek (toh tetap pakai jasa mereka2 juga), dan bagi warga hanya minta hak atas space yang sudah dibayar, kenyamanan, keamanan, dan ketenangan. Jangan sampai hak-hak dan kebebasan kita dibatasi dan terintimidasi oleh Premanisme Ojek..
Saya tertarik dg konsep Supply-demand pak Dodi.
Biasanya, Supply (supplier/vendor) yg mengikuti kemauan demand (customer/market), supply akan berusaha memenuhi kemauan demand agar produk yg dijualnya laku.
Kalau kita merubah pola demand, dlm hal ini dg meng-edukasi warga. Kalau saya jd konsumennya, tentu saya nggak ingin capek2 jalan jauh untuk mendapatkan ojek, apalagi klo rumah saya ada di pojokan (spt RT01 misalya)…bayarnya sama masa hrs pake jalan kaki…jauh lagi!.
Klo saya lbh setuju utk merubah pola supply, targetnya sama yaitu merelokasi supply (ojek) di depan portal security seberang sungai. Biar matching dg kemauan demand, bisa disiasati dg menginformaikan ke warga sbg customer “hot line” tukang ojek tsb. Hot line ini cukup dg nomor HP admin/koordinator ojek (yg titunjuk oleh mereka sendiri) atau bahkan no HP security. Customer cukup order ke nomor hot line ini, selanjutnya admin/koordinator/security yg akan mengatur siapa2 yg giliran handle customer, ojek nyamperin ke rumah customer sesuai informasi.
Atau mungkin ada ide lbh baik untuk menyatukan kepentingan demand-supply biar tercapai win-win solution?
lha iyalah, pake telpun dong ordernya, masa hare gene musti jalan kaki manggil ojek
(padahal itu yang kita lakukan sekarang).
yang dapet CDMA bonus beli rumah kali aja mau disumbangin buat jadi nomer hotline daripada dibuang.
Banyak kok pangkalan2 ojek yang saya lihat bikin papan kayu digantung di batang pohon/pos bertuliskan “OJEK (Telp. 021-xxxxx / 08xxxxxx) “.
Sekarang ngemengnya sudah, tinggal realisasinya.
Konsep supply and demand dari Pak Dodi, mungkin perlu kita realisasikan diawali dengan survey. sebenarnya berapa sih pengguna langganan Ojek di lingkungan kita, jam berpa sih kira2 warga sering memakai Ojek.. sehingga tidak terjadi Over Supply. dari hasil survey tsb misal nanti Pangklan Ojek ditemptkan di Security depan tengah, samping dll, ijin 1 orang ojek yang mennggu langganan di dalam komplek diijinkan pada jam2 yang memang pelanggan sering memakai.. mirip surveynya LSI untuk pemilu.. jadi ya diam2.. mungkin kita bisa nitip form ke Pak Security. cuman kasian juga yaa,, jadi nambah kerjaan aja… mengenai kondisi Over supply.. ya itulah yang terjadi saat ini… pagi siang.. sore. Tadi siang soalnya gw dapat info dari warga sekitar kalao Ojek teriak2, ngegas motor keras saat siang2, saat warga diluar sementara masih ada keluarga yang dirumah, apa sengaja yaa..?
ya itu salah satu efek Over supply… kalo ada yg berpendapat ojek nggk mau dipindah karena kebutuhan konsument, permintaan yang tinggi, pendapat itu diragukan, buktinya mereka banyak nongkrongnya…:) apalagi siang hari… Untuk semua ide sip poknya… Thanks Bu dian, Pak Dodi, mas Rofik, Pak Hendry.. Silakan temen2 yng lain kasih comment.. cemm mana commentnya gak papa.. comment ini akan berguna buat sumbang pemikiran nantinya.
Baru bisa baca sekarang, hihiiii ojek lagi ya, sumbang saran ya bung momod :
Karena ini urusan perut agak susah bilanginnya, Developer dan jajaran RT/RW sebagai lembaga tertinggi di TM seharusnya cepat bertindak…bikin acara rembuk bersama dengan tukang Ojek utk masalah ini.
Isinya sudah ada di pembahasan sebelumnya :
- Pindahkan lokasi ke depan pintu masuk TM
- Booking lewat tlp, kalau memerlukan Ojek. Kalo mau sehat ya jalan kaki dulu :p
- Sarana Angkutan dari developer masih ada ga sih?
- Trus gak kalah pentingnya gimana nasib “Air” kita (loh ada hubungannya ga ya) ya sekalian dirembukin
Semua masalah pasti ada solusinya, tinggal gimana kita cara kita mencari solusi itu.
Mudah2an masalah di TM gak nambah lagi ya
Salam -EP-
Terimakasih bapak di Cb110, Kalo ke pintu depan gak kejauhan mas? gimana kalo ke Kolam renang…tapi ojek ttap diijinkn 1 -2 orang di Post pinggir kali, jadi kayaknya harus pelan2 mindahnya, bertahap.. kalo langsung ditaruh di ujung depan, pengguna ojek kasihan juga karena kejauhan.. kalo Pangkalan Ojek di Taruh di Kolam renang sementara masih ada 1-2 ojek di Portal pinggir kali mungkin tidak terlalu drastis perubahannya. Pengguna ojek dan Ojek tidak kaget. Masalah pengaturan mereka harus ada koordinator. Tidak seperti saat ini, tidak jelas siapa yang mengkoordinir. Coba aja tanya ke semua security apa bisa mereka untuk sekedar menegur, mengatur Ojek. karena tidak jelas siapa koordinatornya. Dari koordinator ini yang akan mengatur penempatan 1-2 orang di portal pinggir kali secara bergiliran.
Dear All,
mau ikutan sumbang saran…
Dalam hal ini memang seperti rantai yang tidak terputus.
Ada baiknya pihak2x yang terkait (Aparat RT/RW, Developer dan Perwakilan Ojek) sehingga ditemukan jalan terbaik (win-win Solution).
Dan sebaiknya hal ini dapat segera dibahas di rapat2x RT/RW. Karena bagaimanapun kita semua telah mempunyai wakil2x yang kompeten.
Sehingga prosesnya dapat berjalan sesuai aturan yang ada. Dan ada baiknya tembusan juga ke Developer.
Mengenai waktu, sebaiknya diprioritaskan.
Sehingga hal ini tidak berlarut-larut.
Terima kasih
-Andre-
Dear All,
Sebagai warga Taman Melati saya turut prihatin apabila kehadiran ojek sudah membuat penghuni jadi tidak nyaman. Dari sekian banyak comment saya sangat setuju dan bisa diambil sebagai salah satu jalan keluar. Namun tentunya langkah yang sangat bijak dan hati-hati yang kita tempuh. Mungkin tahap awal kita perlu mempersatukan pandangan sesama penghuni terlebih dahulu baik di tingkat RT/RW, lalu melibatkan Developer sebagai badan yang masih kita minta partisipasinya atau tanggungjawabnya terhadap masalah ini karena mereka mempunyai perangkat yang mengerti betul masalah keamanan di Taman Melati yaitu Security yang kebanyakan penduduk asli di lingkungan Taman Melati. Kalau RT/RW dan developer sudah ambil keputusan untuk mengatasi masalah ini tentunya tinggal bertemu dengan pihak Ojekers dengan bahasa yang santun, memberi pengertian dengan tidak maksud melarang mereka mengojek disitu cuma caranya supaya lebih tertib dsb. Insya Allah mereka akan mengerti maksud baik kita. Namun siapakah yang akan memulai dan apakah usulan tersebut mendapat respon yang baik dari perangkat yang ada?
Saran saya jangan sekali-kali kita bertindak sendiri-sendiri karena dampaknya tidak baik terhadap diri kita maupun keluarga sehingga dapat menambah kurang nyaman dan tenangya lingkungan kita.
Sekian terima kasih
Terimakasih Pak Andre dan Pak ichal atas commentnya.. Yang jelas sebaiknya perlu ditegaskan bahwa.. penertibn bukan berarti menghalangi Temen2 ojek mencari rizki, ada issue kalo mentang2 orang kaya… masak tidak boleh nyari rizki disini gt. sebaiknya perlu diluruskan justru kita pingin membantu ojek dari pemanfaatan kalangan yang merugikan mereka sendiri. Sikap anarkis yang ditunjukkan justru membuat warga takut, dan enggan naik ojek. Karena Image ojek yang ugal2an. Kalo teratur, tertib, sesuai tempat yang diinginkan warga, mantaati ketentuan aparat setempat, menghormati warga sekitar, tentunya warga pun akan senang, tenang, dan tidak resah.
Sebagai ibu2 sy memang kadang mbutuhkan ojek. Namun penempatan ojek d dalam komplek sebaiknya di atur jumlah max 1 orang aja. Kalo gak bs diatur, sebaiknya semua ojek dluar portal aja. Ojek harus d data, diberi tanda d motornya. Ojek d taman melati udah parah karena developer -rw tidak mengatur dari awal. Sekarang baru mau bikin aturan setelah banyak keluhan warga. Emang telat sih… Trus gmana lg. Mau dibiarkan aja komplek anda diatur, dkuasai preman?
Ojek dimana mana mah diluar gerbang.. kalo di dalam harus dibatasi, dibikin aturan..
Faisal, calon pembeli
Wah .. beberapa kali saya lewat di depan pangkalan ojek, kok serem banget yaa..kok bisa yaa, preman dibiarkan liar di dalam komplek. Pasti ada orang yang melindungi dibelakangnya.. wah kesalahan developer dan aparat setempat neh. harusnya dari awal diatur neh. bisa bisanya yaa, pengembang sekelas adhi realthy lemah dalam masalah keamanan, kenyaman buat konsumen..
Faisal M. Calon pembeli
Dear All,
Setahu saya, di bulan ini para RT bersama RW telah membahas (Rapat) mengenai permasalahan ojek ini.
Ada yang tahu hasil rapatnya ? dan tindak lanjutnya seperti apa ?
Bisa tolong di sharing ?
atau mari kita tanyakan ke RT masing2x…
@Pak Andre..
saya dapat info dari Developer dan RW kalo ada ksepakatan antara RW dan Developer, Developer akan menyediakan pangkalan Ojek dekat kolam renang time date 2 minggu dari tanggal 4 Juli 2009. Berarti minggu besuk 18 juli udah haru selesai. Pangkalan Ojek diluar gerbang deket Kolam renang, diperbolehkan maksimal 2-3 orang di kawasan duren mekar. Pengaturna begantian diatur mereke sendiri. Sosialisasi akan dilakukan antara Pak Rw dan Pembina. cuman belum ada kabar apakah pembina Ojek menyetujui / mau “Ojek” ditertibakan? mari kita tanyakan ke RT masing2. atau RW…
Saya yang paling dirugikan dalam masalah ojek ini. Jika hanya sekedar berisik atau mengambil air tanpa ijin untuk cuci motor dari rumah saya,saya bisa mentolerir dan tidak menganggap itu masalah yang besar atau patut diperbincangkan.Tapi mereka sudah mengganggu privasi saya dan keluarga, menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak aman.Mereka mengitip dijendela rumah saya, sementara saat itu saya tidak pake jilbab (terbuka auratnya),berjudi dan berkelahi di depan rumah saya, kencing diselokan depan rumah, dan mengancam ojek yang mengantarjemput anak saya sekolah (kebetulan saya tidak memakai ojek sini tapi teman yang rumahnya daerah bedahan). Sampai teman saya tidak mau mengantar anak saya lagi,memilih mencari pekerjaan lain yang tidak diintimidasi.Akibatnya anak saya nyaris tidak bisa sekolah.
Ketika hal ini saya laporkan ke RT-RW dan developer, saya malah diancam oleh ojek. Ancaman itu berkali kali. Sebenarnya saya sendiri memerlukan jasa ojek, mengingat saya tidak bisa naik motor dan tidak punya mobil, tapi dengan tingkah laku ojek yang seperti itu, saya mending jalan kaki sampai depan. Segala puji bagi Allah yang mengkaruniai saya kaki yang sehat….
Ikut gemes juga nich baca comment Bunda Nabila…
Dari foto yang ditampilkan sepertinya pangkalan ojek itu juga deket dengan rumah kami… atau mungkin Bunda Nabila tetangga sebelah yang sempat saya kenal dulu sebelum saya berangkat sekolah…
Kayaknya kok jadi gak nyaman di situ ya…
Dulu wakti kami tinggal di BSI, masalah seperti itu juga ada. Untungnya aja warga waktu itu kompak dan bersatu. Sehingga kita bisa menunjukkan kalo kita tidak mau dan akan melawan kalo “dijajah”. Jadi, solusinya waktu itu ya sedikti berbau preman juga terutama mereka yg dari angkatan. Hampir mustahil ngandelin aparat hukum dalam hal ini.
Kalopun gak ada org2 angkatan di komplek kita, paling tidak kekompakan dan kedisiplinan utk tidak naik ojek kecuali di gerbang luar yg bisa jadi modal kita. Selain itu, pengembang Taman Melati yang seyogyanya memberikan kenyamanan bagi warganya sepertinya harus terus didesak utk segera menyelesaikan permasalahan tsbt.
Salam kenal semuanya…
Terimakasih atas comment nya Pak Rahman. Semoga sehat2 selalu di Australia.. O ya mau kasih info aja.. kalo di Rt4 kita ada milis: keluarga_RT4@yahoogroups.com , untuk taman melati ada milis juga:
taman-melati@yahoogroups.com.
Untuk masjid ada Blognya:
http://masjidtamanmelati.wordpress.com
Semoga sukses selalu disana…
Saya setuju dengan kebijakan agar tukang ojek pindah kedepan dekat kolam renang. Kesannya kumuh kalo ada ojek di dalam perumahan trus dari segi keamanan juga riskan>
Kok kayaknya nggak ada tanggapan ya ? baik dari Developer maupun dari para pengurus RW.
Sepertinya kita tidak bisa beropini terus menerus seperti ini, harus ada langkah konkrit.
Coba sekarang lihat, di lokasi tersebut bahkan sudah mulai di bangun tempat duduk dari beton, dan ada susunan bata yg sepertinya akan ada bangunan.
Mari kita bergerak….bismillah
Dear Rekans Warga,
sore ini saya telah berdiskusi dengan salah seorang pihak developer (Adhi realty) yang juga sealigus warga TM yang lokasinya tidak jauh dari pangkalan ojek saat ini.
Dengan beliau saya membahas permasalahan ojek ini, saran dari beliau adalah agar segera membuat surat resmi (sebagai konsumen perumahan taman melati) sehingga dapat segera di tindak lanjuti
yuk kita mulai bergerak…bismillah
*Allah tidak akan merubah suatu kaum apabila bukan kaum itu sendiri yg merubahnya
Untuk warga baru seperti saya, saya dukung rencana2 terbaik untuk kenyamanan Taman Melati..,
Terimakasih Pak Redy W utomo, Semoga krasan saja di TM, kita coba bareng pikirkan bagaimana bisa nyaman tinggal di TM ini. apapun kondisinya, ya itulah realitanya. masih banyak yang harus di benahi di TM ini. Kasus Gurita Ojek kamtibmas yang susah diatur dan Tidak mau diatur adalah salah satu kasus yang ada ti TM. Semoga Developer dan Aparat setempat segera bangun dari tidurnya….